PERMAINAN SENI RUPA KONTEMPORER
Oleh Dio Pamola C
Kamis, 23 Februari 2012 13:35:01 Klik: 1161 Cetak: 168 Kirim-kirim Print version download versi msword

Dalam wahana seni rupa Indonesia kontemporer, kita mengenal beberapa pembaharuan yang terjadi. Mulai itu dari keinginan masyarakat luas (awam) untuk ingin mendalami seni rupa, sampai nanti kepada pola dan kecenderungan selera serta nilai estetika yang baru. Gejala semacam ini mulai menampakkan diri ketika booming  seni rupa yang terjadi merambat dari tahun 2005. Muaranya, fenomena booming ini telah menyisakan banyak kenangan manis yang berujung pahit bagi seniman. Bagaimana tidak, booming sendiri seolah –olah bagaikan hujan emas yang turun dari langit bagi beberapa mereka. Sebagian besar dari mereka memperoleh “kejayaan” dan bertahan. Sementara sebagian yang lain larut dalam eforia kesenangan yang sesaat dan terjatuh.

 

 “Gelombang emas” itu senantiasa meruntuhkan moralitas anti pelacuran dalam seni yang lahir dalam seni rupa kontemporer lebih awal. Semboyan “L’art pour L’art” yang diperkenalkan oleh filosof Victor Causin pada abad 19 pun sepertinya tidak kuasa lagi membendung penawaran arus nilai baru yang entah berasal dari mana dan siapa. Puing-puing idealisme (bisa dipahami sebagai keyakinan, prinsip) seniman yang bersorak-sorak anti kapitalisme seakan-akan sengaja dikubur dalam-dalam.  Barangkali tidak lagi memiliki anti virus yang sepadan.

 

Sekarang, kalau kita perhatikan, akibat dari dinamika tersebut adalah beberapa seniman mulai nampak terseok-seok. Tidak bisa membenahi diri. Ruang tempat ranah ide-ide yang sublime itu bercokot kini sudah bersemak semak, ditumbuhi rumput ilalang. Semua sendi-sendi translasi sepertinya beku, berubah menjadi stagnasi yang membahayakan seniman itu sendiri dan mungkin juga perkembangan seni rupa ke depannya. Coba saja perhatikan, sekarang ini seniman dikejutkan dengan ide-ide segar yang dibutuhkan oleh orang “kedua dan ketiga”.

 

Secara tiba-tiba seniman juga harus diforsir seluruh kapasitas isi kepala dan hatinya untuk itu. Entah percaya atau tidak, arus perubahan nilai estetika itu sekarang sudah dipegang kuat kuat oleh kapitalisme. Seniman tidak obahnya sebagai kuda beban dari gengsi dan keserakahan kapitalisme. Efeknya, seniman mulai tidak betah dalam dan dengan keyakinan mereka yang katanya suci, sublime, dan segala macamnya itu. Tidak tahu harus berbuat apa, berkarya seperti apa dengan ide yang bagaimana. Akhirnya, kembali kepada keputusan yang munafik, “seperti apa adanya sajalah”. Berspekulasi menunggu dewi Fortuna. Putus asa namun berharap.  Berharap namun tetap putus asa. Ironisnya lagi, ada pula mereka yang hilang entah kemana tak tahu rimbanya.

 

Namun demikian, ada sesuatu yang menggembirakan juga. Seakan tidak mau terperangkap dalam lingkaran kusut tersebut, disitulah sebenarnya peperangan yang nyata bagi seniman. Dalam pertempuran inilah akan dilihat bagaimana kapasitas kreatif mereka dalam menawarkan sesuatu kecenderungan yang baru. Seberapa jauh kesanggupan mereka bertahan dengan suplemen yang up-date dan pragmatis bukan pragmatik. Seberapa berpengaruh ide-ide dan karya mereka menguasai lahan-lahan pertempuran itu. Mereka kini memang benar-benar beradu dan diadu.

 

Seni Avant garde sepertinya mencekik total konvensionalitas yang dekaden (merosot). Pakem-pakem lama yang sakral kini sudah runtuh mengawali diktat yang baru. Semestinya seniman sudah belajar dari pengalaman mereka, tentang “permainan” dunia mereka sendiri. Pastinya tidak ada sesuatu kesenangan yang datang tiba-tiba tanpa perlawanan dan genjotan. Kepahitan pun juga tidak akan segera hanyut meskipun telah banyak menelan air.

 

Seniman bukan dilahirkan dalam kehidupan yang penuh kesenangan. Ia harus tidak hidup bermalas-malasan dan mengumpat. Ia memiliki pekerjaan berat untuk bisa menggelar karya seninya. Ia harus menyadari bahwa setiap perbuatan, perasaan, dan pemikiran adalah material yang masih kasar/ mentah. Akan tetapi yang pasti dari situlah karyanya akan muncul. Seniman harus menyadari lagi bahwa ia bebas di dalam seni tetapi tidak bebas dalam kehidupan.

 

Berhubung seni itu adalah ketidak pastian maka yang terjadi di dalamnya juga merupakan wujud dari ketidak pastian itu sendiri. Tidak ada yang kekal dalam seni. Tidak ada pula sesuatu yang ambigu. Semuanya bisa bergulir naik turun, sikut- menyikut, himpit-menghimpit. Manakala idealisme dirasa sudah tidak up-date lagi, ketinggalan jaman, kolot, dan primitif atau tidak “ngontemporer”, maka memilih cara dan strategi baru dengan mengkambinghitamkan alasan survive, adalah pilihan yang tersisa. Apa yang terjadi sebenarnya dalam seni? Apa yang perlu dibenahi? Mungkin kita butuh redefinisi lagi agar dekontekstualisasi itu tidak begitu kentara. (Dio Pamola Chandra)

 

 

 

 

 
Berita Isu Terkini Lainnya
. Handiwirman dan Yunizar Ke Art Fair London 2013
. Heri Dono: Estetika Setelah Etika!
. Fakta Menarik Tentang Apresiasi Pameran
. SENI: ANTARA PROFESI DAN HOBI
. SENI RUPA INDONESIA MINIM APRESIASI?
. Mulai Cinta Pada Kaligrafi
. Resiko Berat Jadi Pelukis Kaligrafi
. Melukis Alam Minang yang Tak Berkesudahan
. Kaligrafi ‘Hendra Buana’ Untuk Bumi
. Karya Handiwirman Saputra No Roots, No Shoots


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar